The Living Thing / Notebooks :

Ensemble Tikoro collaboration

Pacilingan Rempag

Pacilingan Rempag

Sound Story from Denawa’s Childhood

Komposisi bunyi oleh Robi Rusdiana, dimainkan oleh Ensemble Tikoro yang berkolaborasi dengan Dan Mackinlay (pemusik elektronik/sound artist dari Australia) dan M. Ismail (ilustrator)

Pacilingan, diambil dari Basa Sunda yang berarti WC tanpa atap atau toilet tradisional yang biasanya berada di sungai kecil, sawah, kolam, dan tempat di luar rumah lainnya. Hingga kini, pacilingan masih ada di beberapa tempat di desa, namun di kota nyaris sudah tidak ada, terkecuali di wilayah pemukiman kumuh. Keberadaan toilet begitu penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Pacilingan Rempag, yang berarti runtuhnya kakus, merupakan sebuah reinterpretasi dalam penyikapan hilangnya keceriaan dan kebahagiaan ketika seseorang melakukan kegiatan di dalam kakus. Pada masa dahulu, anak-anak bahkan melakukan kegiatan buang air besar di pacilingan secara bersama-sama. Sembari bercanda, menikmati angin dan cerahnya langit. Namun kini, sudah jarang sekali anak-anak melakukan itu. Entah karena perubahan pola pendidikan mengenai privasi ataupun hal lainnya.

Dalam karya ini, akan disajikan cerita bunyi yang diperkuat dengan ilustrasi pada proyektor. Adapun cerita tersebut adalah mengenai kehidupan masa kecil para denawa,kaum antagonis atau tokoh raksasa dalam cerita wayang pada umumnya.

Karya ini ditujukan untuk semua umur, berupa rangkaian komposisi musik kontemporer yang dibalut dengan sebuah ensemble. Diharapkan mampu menjadi bahan apresiasi menarik mengenai pengolahan bunyi dan visual bagi masyarakat umum.

Sound composition for guttural choir and live drawing. by Robi Rusdiana, performed by Ensemble Tikoro, featuring Dan Mackinlay (Sound artist/ AU) and M. Ismail (illustrator/ID)

The toilet is central to human life. Pacilingan is a Sundanese word meaning outhouse or dunny. It denotes a roofless traditional-style toilet, usually over a creek, fish pond or rice paddy. These days pacilingan have vanished from the cities, and are found only in a few slums and rural villages. Pacilingan Rempag, “collapse of pacilingan”, recalls the loss of the simple and joyous experience of the outhouse. In older, more innocent days, children would even defecate in pacilingan together, joking and enjoying the breeze and the bright sky. That experience is also rare in these more private times of concrete toilet blocks and discipline.

In this work, we tell a sound story for voices accompanied by electronics, jentreng, tarawangsa and live projected illustrations. Denawa, the antagonist in the Ramayana epics, certainly used a pancilingan in his childhood; This story is about that time in his life.

The work is suitable for all ages.

Monkey Oath

Ensemble Tikoro Personel

Many, all very talented. There are a couple with whom I’ve been working especially closely…

Robi Rusidana / ᮛᮧᮘᮤ ᮛᮥᮞᮤᮓᮔ

Profile: Robi Rusdiana.

This guy is amazing. He’s trained in western and Sundanese classical music, to supplement his original skill as bass player in metal outfit Impish. He also lectures in sound design for animation and video games at two different universities, and is the conductor and boss guy of the metal/guttural choir Ensemble Tikoro.

Robi is my official liaison for the Hitek/Lotek project and answers all my questions about Sundanese music, and has generally interesting opinions about the nexus of atonal contemporary classical and industrial music.

He talks good english as well as Indonesian and Sundanese; you should contact him for more projects.

Teguh Permana / ᮒᮨᮌᮥᮂ ᮕᮨᮁᮙᮔ